Isnin, 1 Mei 2017

PERISTIWA DAN TRAGEDI SYA'BAN DALAM ISLAM.

“kerana Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri,” adalah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan lelah atau menghentikan dalam memberi pahala bagi hambaNya yang beribadah. Allah juga akan selalu melipatgandakan pahala, selama hambaNya

Perubahan Arah Kiblat
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa peristiwa perubahan arah kiblat terjadi pada Bulan Sya`ban tepatnya pada tanggal ketiga belasnya. Abu Hatim Al-Bustiy berkata, kaum muslimin melaksanakan salat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 17 bulan lebih tiga hari, kemudian Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan Nabi untuk solat menghadap ke Ka`bah pada hari ketiga belas pertengahan Bulan Sya`ban
Allah ta’ala mengabulkan do’a dari nabi mulia ini dan menjadikan ka’abah sebagai kiblat kaum muslim.Hal ini dijelaskan dalam surat al-Baqoroh ayat 144 :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَ إِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
“Sesungguhnya Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit, maka Kami palingkan­ lah engkau kepada kiblat yang engkau ingini. Sebab itu palingkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu semua berada palingkanlah mukamu ke pihaknya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwa­sanya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan”.

SELAWAT ATAS NABI
Allah ta’ala menurunkan ayat tentang perintah membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW , iaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56).
Kerana turunnya ayat ini pada bulan Sya’ban sebagian Ulama menyebut Sya’ban dengan bulan selawat dan menganjurkan memperbanyak membacanya di bulan ini.


Bulan Diangkatnya Amal Perbuatan Seorang Hamba
Imam Nasa`i meriwayatkan bahwa Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai Rasulullah, mengapa aku melihat engkau berpuasa pada bulan Sya`ban tidak seperti yang engkau lakukan ketika berpuasa pada bulan-bulan yang lain?’ kemudian Rasul menjawab, “Pada bulan inilah, orang-orang banyak tidak menyedarinya iaitu bulan yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan, pada bulan itulah amal-amal dihantarkan dan dibentangkan kepada Tuhan alam semesta. Oleh kerananya, aku ingin agar ketika amalku dipersembahkan kepadaNya aku sedang berpuasa.”

Dari riwayat tersebut, terdapat kandungan hikmah dan petunjuk kepada kita bahwa bulan Sya`ban adalah saatnya amal kita dibawakan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Mungkin ketika amal itu dibawakan sementara kita dalam keadaan berpuasa, akan memberi hasil laporan tersebut, atau mungkin semua amal kita akan dihitung sebagai amal baik. Kerannya, puasa di bulan ini sebagaimana anjuran pada riwayat di atas memiliki nilai yang tinggi, selain tentunya kita mengamalkan salah satu sunnah Nabi Muhamad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Sedangkan maksud sabda Nabi, “Pada bulan inilah, orang-orang banyak tidak menyedarinya,” adalah secara umum banyak umat yang memberikan perhatian lebih kepada bulan Rejab dengan segala kemuliaannya. Ketika bulan itu telah berlalu dan memasuki bulan Sya`ban, mereka menganggap tidak mendapatkan lagi kesempatan yang istimewa sehingga melalaikan ibadahnya kerana bosan atau putus asa. Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah agar kita tidak terlena dan patah semangat dalam menyambut dan mengisi bulan Sya`ban, kerana bulan ini mempunyai istimewanya tersendiri dengan bulan sebelumnya.

Sayidah Aisyah ra. berkata, “Tidak pernah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berpuasa pada suatu bulan lebih banyak dari bulan Sya`ban, kerana pada bulan tersebut beliau berpuasa sebulan penuh. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Lakukanlah kebajikan sekuat dan sebanyaknya yang kau sanggupi, kerana Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).

Maksud sabda Nabi, “Sekuat yang kausanggupi,” adalah dalam melakukan ibadah hendaknya dilakukan dengan penuh semangat, cita-cita tinggi, dan harapan kepada Allah, kerana yang demikian akan menghilangkan kebosanan, kejemuan, dan putus asa. Jika semua sifat-sifat buruk menyertai ibadah seseorang akan menjadi pincang yang mungkin merosak pahalanya.
Berikutnya, maksud sabda Nabi, “kerana Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri,” adalah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan lelah atau menghentikan dalam memberi pahala bagi hambaNya yang beribadah. Allah juga akan selalu melipatgandakan pahala, selama hambaNya tekun dan semangat beribadah. Sebaliknya, ketika kita dihinggapi rasa bosan, malas, dan putus asa dalam beribadah, maka Allah pun akan mengurangi atau bahkan menghentikan pahalaNya. Kerana, mereka telah menghilangkan kesinambungan dalam beribadah.


Bulannya Al-Qur`an
Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al-Ma`aarif menyebut sebuah riwayat tentang apa yang dilakukan para salaf di bulan Sya`ban yang diantaranya adalah menekuni Al-Quran. Dia mengatakan, “Jika bulan Sya`ban telah tiba, umat Islam menekuni lembaran-lembaran Al-Qura`an, mereka membaca Al-Qur`an, dan sekaligus mengeluarkan zakat hartanya untuk memberi kekuatan kepada orang yang lemah dan miskin dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.”

Bulan Sya`ban merupakan waktu yang mulia dan dimuliakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Sudah sepatutnya jika kita melakukan kegiatan-kegiatan yang senafas dengan kemulian bulan tersebut. Beberapa amalan berupa bacaan selain membaca salawat adalah memperbanyak membaca kalimat tauhid “Laa ilaaha Illallaah” dan membaca istighfar.

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Bakar ra dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang berkata, “Hendaklah kalian membaca ‘Laa ilaaha Illallaah’ dan beristighfar (memohon ampun), sebab Iblis telah berkata, ‘Aku binasakan manusia dengan dosa-dosa namun mereka membinasakanku dengan Laa ilaaha Illallaah dan istighfar. Maka ketika aku melihat hal tersebut, aku binasakan mereka dengan pujukan dan godaan dan mereka mengira bahawa mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Ya`la)

Menghidupkan Malam Pertengahan Bulan Sya`Ban dengan Kebaikan
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah malam Nishfu Sya`ban, dimana Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari neraka pada malam ini sebanyak bulu domba Bani Kilab, kecuali bagi orang musyrik, bermusuhan,berselisih faham, pemutus silaturrahim, anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan peminum minuman keras.” Riwayat di atas memberi gambaran kemuliaan malam Nisfu Sya`ban yaitu malam pertengahan Bulan Sya`ban. Pada malam itu, rahmat Allah Subhanahu Wata’ala ditebarkan di atas bumi bagi manusia yang saat itu beribadah, bermunajat, dan bertafakkur kepada Allah Swt. Bagi hamba yang memohon ampun dari dosa-dosanya sekalipun dosanya sebanyak buih di lautan, tak terhingga, maka ia akan diampuni semuanya, kecuali dosa-dosa yang disebutkan dalam riwayat tersebut

1. Perubahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

2. Diwajibkan puasa bulan Ramadhan

3. Turun Ayat Shalawat

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Sayyidatuna Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anhuma

5. Perang Badar kedua (as-sughra)

6. Kelahiran Sayyidina Abdullah ibn az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma

7. Kelahiran Sayyidina al-Husain ibn Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhum

8. Perang Bani al-Musthaliq

9. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan sayyidah Juwairiyah bintu al-Harist radhiyallahu ‘anha

10. Peristiwa al-Ifki (Dusta )

11. Pengiriman Pasukan Abdurrahman bin Auf ke Daumatul Jandal

12. Pengiriman pasukan Ali bin Abi Thalib ke Bani Sa’ad bin Bakr di Fadak

13. Pengiriman Pasukan Umar bin Khathab ke Thurobah

14. Pada bulan Sya’ban tahun ketujuh Hijriah sayyidinaa Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu diutus bersama tiga puluh orang ke Thurobah.

15. Pengiriman pasukan Basyir bin Sa’ad al-Ansyori ke Fadak tahun ke-7 Hijriah

16. Pengiriman pasukan Abu Bakar as-Sidiq ke Najed tahun ke-7 Hijriah

17. Pengiriman pasukan Abi Qotadah ke Hadhirah tahun ke-8 Hijriah

18. Sayyidah Ummu Kultsum puteri Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam wafat

19. Kelahiran Sayyidinaa Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali R.A. (cicit Rasulullah)

20. Sayyidatuna Hafshah binti Umar ibn Khathab radiyallahu ‘anhuma wafat
~Wallahu'alam
~Jaksa Kotaraja

Tiada ulasan:

Catat Ulasan