Selasa, 25 Disember 2012

KIAMAT, SYAFAAT DAN RAHMAT

...Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanannya. Kemudian Dia berfirman: “Akulah Raja di raja. Aku Maha Memaksa. Di mana raja-raja bumi? Di mana para pemaksa? Di mana orang-orang yang sombong?”... 

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung),dan manusia bertanya:“Mengapa bumi(jadi begini)???  
(Az-Zalzalah: 1-3)

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” 
(Al-Hajj: 1-2)


“Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal).
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan.” 
(Al-Waqi’ah: 1-6)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menyatakan: 
“Allah mengajak bicara seluruh manusia dan memerintahkan agar mereka bertakwa kepada Rabbnya, yang telah memelihara mereka dengan nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak maupun yang tidak tampak. Maka sudah sepantasnya mereka bertakwa kepada-Nya, dengan meninggalkan kesyirikan, kedurhakaan dan kemaksiatan. 

Sepantasnya pula mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya selama mereka mampu melaksanakannya. Kemudian Allah mengabarkan tentang hal-hal yang akan membantu mereka dalam bertakwa, dan memperingatkan
mereka agar mereka tidak meninggalkan ketakwaan tersebut, yaitu berupa berita-berita tentang peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada hari kiamat.” (Tafsir As-Sa’di hal. 532) 

1. Langit terpecah-belah, bintang-bintang berjatuhan, cahaya bulan menghilang, matahari dan bulan dikumpulkan.

Peristiwa-peristiwa ini akan terjadi pada hari kiamat, sebagaimana yang Allah beritakan dalam surat At-Takwir, Al-Infithar dan Al-Insyiqaq.

Rasulullah bersabda tentang keutamaan tiga surat tersebut:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيُ عَيْنٍ فَلْيَقْرَأْ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

“Barangsiapa yang senang memerhatikan (peristiwa-peristiwa yang akan terjadi) pada hari kiamat, hendaknya dia membaca surat At-Takwir, Al-Infithar dan Al-Insyiqaq.”
(HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Umar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1081)

2. Allah akan mengenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya yang mulia

Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” 
(Az-Zumar: 67)

Juga dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulllah bersabda:
Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanannya. Kemudian Dia berfirman: “Akulah Raja di raja. Aku Maha Memaksa. Di mana raja-raja bumi? Di mana para pemaksa? Di mana orang-orang yang sombong?” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Hubungan nasab terputus

Karena dahsyatnya peristiwa-peristiwa yang terjadi, maka terputuslah hubungan nasab. Bapak tidak mampu menolong anaknya. 

Anakpun tidak mampu menolong orangtuanya. Suami tidak mampu menolong isterinya, sebagaimana seorang isteri juga tidak mampu menolong suaminya. Masing-masing berlepas diri dan mencari keselamatan dirinya sendiri.

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah:
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” 
(Al-Mu’minun: 101)

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(‘Abasa: 33-37)

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” 
(Al-Baqarah: 166)

“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” 
(Al-Infithar: 19)

Sampaipun para rasul yang termasuk Ulul Azmi , tatkala mereka diminta untuk memberikan syafaat terhadap para makhluk di padang mahsyar, mereka menyatakan:
نَفْسِي، نَفْسِي
“Ya Allah, selamatkan diriku, selamatkan diriku.”

Kecuali Nabi kita Muhammad , sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang kisah asy-syafa’atul ‘uzhma (syafaat yang agung).

4. Penyesalan pada hari itu tidaklah bermanfaat

Allah berfirman:
Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. 
Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. 
Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: 
“Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). 
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.
(Al-Furqan: 25-29)

Al-Imam Ibnu Katsir berkata: 
“Dalam ayat-ayat ini, Allah mengabarkan tentang (apa yang akan terjadi pada hari kiamat) berupa penyesalan orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti jalan Rasul dan apa yang beliau bawa, berupa kebenaran nyata dari sisi Allah yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dia justeru menempuh jalan yang lain. Maka, tatkala terjadi hari kiamat dia akan menyesal, dalam keadaan penyesalan itu tidak bermanfaat baginya.” 
(Tafsir Ibnu Katsir, 3/280) 

Berkata Muadz ibn Jabal r.a: bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Makmurnya Baitul Maqdis merupakan kerusakan bagi Yatsrib(Madinah), rusaknya Yatsrib(Madinah) sebagai tanda dimulainya al-malhamah, dimulainya al-malhamah merupakan pembebasan bagi Qostantinopel, dan pembebasan Kostantinopel sebagai tanda keluarnya dajjal”, lalu Muadz ibn Jabal memukulkan tangannya ke paha atau pundak orang yang sedang diajaknya bicara, sambil berkata: sungguh ini pasti terjadi, sebagaimana pastinya engkau duduk disini. 
(Hadits Hasan riwayat Abu Dawud) 

Lantas bagaimana perjalanan menuju sakaratul maut, alam kubur dan kehidupan akhirat yang bukan seabad, sejuta abad, berbillion abad tetapi pastinya selama lamanya. "Sesungguhnya kehidupan akhirat itulah sebenar-benarnya kehidupan" 
Sementara itu waktu untuk mengumpulkan bekal di akhirat kelak terlalu singkat, janganlah sia-siakan hidup sebentar ini dengan santai apalagi sampai berani maksiat.
Sahabatku, bangunlah ditengah malam, lalu solatlah dengan rendah hati dan diri"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa" 


BAB SYAFAAT 

Pada hari kebangkitan, sehari bersamaan 50,000 tahun. Manusia menunggu giliran untuk dihisab selama 50,000 tahun sehinggakan ada yang sanggup untuk ke Neraka kerana tidak tahan menunggu.

Sekumpulan manusia pula berkata “ayuhlah kita ke para nabi-nabi supaya mereka dapat memberi kita syafaat untuk memulakan hisab”

Lalu mereka berjumpa dengan Nabi adam a.s
“wahai Nabi Adam, Allah telah menciptakan kamu yang pertama  dengan tanganNya sendiri, berilah kami syafaat”
Adam menjawab “aku dengan halku, aku telah berdosa dengan tuhanku, dulu aku duduk disyurga hingga aku turun kedunia ini diatas dosaku dan aku dengan halku.. pergilah kepada Nabi Nuh a.s”

Nabi Nuh as menjawab “aku dengan halku, aku telah tinggalkan kaumku,anak isteriku dan lain lain, pergilah kepada Nabi Ibrahim as”

“wahai Ibrahim as, kau pencinta ar-Rahman, berilah syafaat kepada kami”
Nabi Ibrahim as menjawab “aku dengan halku, aku telah tipu dengan penipuan, dan dia sebutkan tentang kisah bapanya samada selamat . Pergilah kepada Nabi Musa as”

“Wahai Musa, engkaulah Kalam ar-Rahman, Allah Swt bercakap dengan kamu secara langsung (tanpa hijab), berilah syafaat kepada kami”
Dan Nabi Musa juga menjawab “aku dengan halku,bagaimana dosa yang aku telah terbunuh seorang, pergilah kepada Nabi Isa as”

Maka pergilah mereka kepada Nabi Isa
dan baginda menjawab “aku dengan halku,” tapi dia tidak menyebut dosanya. “pergilah kepada Nabi Muhammad SAW”

Maka pergilah mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan baginda berkata 
“akulah orangnya, akulah orangnya” maka Rasullullah pun pergi menemui ALLAH,lalu sujud kepada Allah SWTSelama mana Allah mahukan dia bersujud, dan Tuhan mengajarnya puji-pujian yang tidak pernah didengari sebelum ini yakni gaya pujian kepada Allah SWT dengan cara yang tidak pernah Rasul dengar sebelum ini.Maka baginda puji Allah SWT dan barulah dimulakan hisab.Maka masuklah yang ke Syurga itu ke Syurga, dan yang ke Neraka itu ke Neraka.

Dan Rasulullah masih berada dalam situasi ini.
Rasulullah berkata “maka aku sujud pada Allah, selama mana dia mengkehendaki aku bersujud”
Dan Allah melihatnya dan berkata
“angkatlah kepalamu Muahammad, dan mintalah,kamu akan diberi. Mintalah syafaat, kau akan disyafaatkan”

Dan Rasulullah menjawab “ummati, ummati”

Pada Hari Akhirat semua orang akan berkata “Aku dengan halku” kecuali Nabi Muhammad yang berkata “ummati, ummati”
Maka Allah SWT berkata “keluarkan dari neraka itu manusia-manusia yang di dalam hatinya seberat biji gandum dari iman”
Maka keluarlah berduyun-duyun manusia
Nabi Muhammad berkata,”dan aku kembali semula kepada Allah SWT dan aku sujud, dan aku panjangkan lagi sujudku”
Dan Allah melihatnya dan berkata
“angkatlah kepalamu Muhammad, dan mintalah,kamu akan diberi. Mintalah syafaat, kau akan disyafaatkan”
Dan Rasulullah menjawab “ummati, ummati”

Maka Allah SWT berkata “keluarkan dari neraka itu manusia-manusia yang di dalam hatinya seberat biji sawi dari iman”Maka keluarlah berduyun-duyun manusia

Nabi Muhammad berkata,”dan aku kembali semula kepada Allah SWT dan aku sujud,”
Dan Allah melihatnya dan berkata
“angkatlah kepalamu Muahammad, dan mintalah,kamu akan diberi. Mintalah syafaat, kau akan disyafaatkan”

Dan Rasulullah menjawab “ummati, ummati”

Maka Allah SWT berkata “keluarkan dari neraka itu manusia-manusia yang di dalam hatinya sebesar atom (zarah) dari iman”
Tahukah kamu sebesar zarah? Yakni apabila kamu kasihan untuk memijak seekor semut, maka itulah sebesar zarah.

Nabi Muhammad berkata,”dan aku kembali semula kepada Allah SWT dan aku sujud, dan aku panjangkan lagi sujudku”
Dan Allah melihatnya dan berkata
“angkatlah kepalamu Muahammad, dan mintalah,kamu akan diberi. Mintalah syafaat, kau akan disyafaatkan”
Pada kali keempat ini, Baginda berkata,”Ya Allah, izinkan aku (keluarkan) sesiapa yang pernah sebut La Ila Ha Illallah, walaupun dia bukan dari umatku, tapi telah Esa kan kau, walaupun tidak pernah menyebut Lailah haillallah Muhammadar Rasulullah, hany mengESAkan engkau sahaja”

Maka Allah SWT berkat “dengan KEMULIAANKU, dan KEAGUNGANKU, dan KEBESARANKU, akanku keluarkan dari neraka barangsiapa yang menyebut La Ila Ha Illallah”

betapa tingginya kasih sayang yang telah diberikan pada umat manusia oleh junjungan rasullullah dan kita lihat betapa sayangnya ALLAH Swt terhadap hambanya .Sesungguhnya Rahmat ALLAH Swt MAHA MENGASIHI MAHLUKNYA.. Malunya kita disisi ALLAH Swt akan apa yang telah kita dambakan kehidupan kita di dunia ini???.Yang pasti, setiap hari kita dibaluti oleh dosa-dosa yang disengajakan oleh kita,apatah lagi dosa yang tanpa kita sedari.
Mengapakah seronoknya tatkala diriku bergelumang dengan dosa.. dan kini pula Mengapakah aku masih lalai dalam memohon keampunanMU YA ALLAH ..!!!!!!!!!!!!....Mengapakah aku masih perlakukan dosa walau aku mengetahuinya  YA ALLAH...!!!!!!...Ya ALLAH Diatas RAHMATMU aku memohon keampunanMU YA ALLAH !!!!! ampunilah aku dari dosa yang aku sedar dan ampunilah dosa yang aku tidak sedar yang telah aku perlakukan.....Ammiin Ya robbal'Alamin..

~wallahu'alam....
~jaksa kotaraja....

TAKALA TIDUR MIMPI MENJADI INGATAN WAKTU BERJAGA.....

Tiada saat yang indah dan menarik melainkan merasai nikmat tidur.Ditambahi pula oleh mimpi sesuatu yang kita angankan terjadi dalam mimpi...tentu seronok..tetapi biasanya banyak mimpi kita terpotong dihujung jalan kerana dibangun atau''dikejutkan'' orang.Pasti akan  ada ysng sambung semula tidur mengharapkan ianya bersambung walaupun ianya adalah ''mainan tidur''.Inilah saat kelalian diri manusia itu bermula.
Tidur sebenarnya adalah rehat pada istilah. Tidur pula adalah mati sementara dalam syariat islam. Ada orang suka tudur bila dapat musibah dan ada pula yang tidak boleh tidur kerana memikirkan musbbah atau lainnya.Maka kita hendaklah berusaha untuk bersabar dan mengharap pahala dari Allah dengan musibah itu. Termasuk ketika Anda tidak selesa disaat beristirehat, mungkin juga kerana ada gangguan makhluk halus maupun makhluk ‘kasar’. Jadikan pengalaman pahit Anda dalam hidup ini sebagai sumber pahala. hadirkanlah perasaan mengharapkan keredhaan hidup dari Allah SWT.

Dari Abu Hurairah r.a, bahawa Rasullullah bersabda;
“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa sakit, bingung, sedih, resah yang mendalam, sampai duri yang mengenai tusuk di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” 
(HR. Bukhari 5641).

Tidur..... sekuat apapun manusia, dia menjadi sangat lemah ketika tidur. Orang yang tidur lelap, boleh menjadi sasaran bagi makhluk jahat di sekitarnya. Jika dia boleh merasa aman dari gangguan manusia, tidak ada jaminan aman pula dari gangguan makhluk yang halus. Itulah jin yang jahat. Jika mereka(jin dan syaitan) tidak mengganggu manusia di alam nyata,  mereka akan mengganggu waktu tidur

Itulah kesempatan terbesar bagi syaitan untuk bertindak nakal, mengganggu manusia.

Dari Abu Hurairah r.a,Rasulullah bersabda;
“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti syaitan, dan kabar gembira dari Allah.” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika gangguan dari luar, manusia akan meminta bantuan orang lain untuk mengusirnya. Tapi ini tidak berlaku ketika dalam mimpi.Kita tidak mungkin memanggil teman, suami, atau isteri untuk mengusir setan yang mengganggu kita 
dalam dunia mimpi.

Kerana itulah, orang yang tidur tanpa berdzikir terlebih dahulu, akan menjadi penyesalan baginya(mengalami gangguan).

Dalam al-Adzkar, an-Nawawi membuat judul bab:
“Bab Makruh Tidur tanpa Berdzikir kepada Allah (sebelum tidur)” (al-Adzkar, Hal. 95). Selanjutnya, an-Nawawi menyebutkan hadis berikut; Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang tidur, sementara tidak berdzikir ketika hendak tidur, akan menjadi penyesalan baginya di hadapan Allah.” 
(HR. Abu Daud 4856 dan dishahihkan al-Albani).
Malaikat dan Syaitan Menghadiri Seseorang yang Hendak tidur
Dalam hadist yang berasal dari Jabir bin Abdullah, dinyatakan:
“Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan syaitan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, “Akhiri (malam-mu) dengan kebaikan”, sedangkan syaitan membisikan, “Akhiri (malam-mu) dengan keburukan”. 
Apabila dia berdzikir menyebut nama Allah kemudian tidur, maka malaikat melindungi dia di malam itu.” 
(HR. Ibnu Hibban 5533, Hakim dalam al-Mustadrak 1969 dan beliau shahihkan, kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Di saat manusia tidur,mohonlah pertolongan dan perlindungan kepada Allah Swt. Untuk mendapatkan jaminan keamanan ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita berbagai doa dan dzikir sebelum tidur.Rutinkanlah doa ini, setiap kali hendak tidur:
1. Ruqyah
Bacaan ini telah disebutkan di pembahasan doa yang dibaca orang sakit. Namun, mengingat bacaan ini erat kaitannya dengan kegiatan tidur, maka di kesempatan ini perlu kita sebutkan ulang.Yang dimaksud ruqyah itu adalah membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian ditiupkan ke dua tangan, lalu diusapkan ke seluruh tubuh yang boleh dijangkau tangan, sambil berbaring.
Hadis selengkapnya:

Dari Saidatina Aisyah r.a beliau mengatakan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا

''Rasulullah membaca Al-Mu’awidzat, lalu meniupkan tangan untuk diusap ke badannya ketika beliau sakit disaat menghampiri kewafatannya. Ketika Rasulullah sudah sangat parah, aku (Aisyah) yang meniupkan ke tangan dengan bacaan surat tersebut, dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena tangan beliau berkah.'' 
(HR. Bukhari no. 5735)

 
2. Tidur dengan Nama Allah

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

BISMIKA ALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA
“Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.”

Keterangan:

Orang yang sedang tidur, sejatinya sedang Allah wafatkan. Allah berfirman:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

“Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia(ALLAH SWT) tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” 
(QS. Az-Zumar: 42)

Kerana itulah, ketika hendak tidur, kita membaca : Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. Maknanya, aku mati ketika tidur dan aku hidup ketika bangun.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau membaca: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.. 
(HR. Bukhari 6324)

3.  Ayat Kursi

Baca ayat kursi sebelum tidur. Jika Anda belum hafal, bisa buka surat Al-Baqarah ayat: 255. Bacaan ini sebelum tidur memiliki keutamaan yang besar.

Dikatakan pada satu ketika Abu Hurairah r.a. telah diamanahkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam Abu Hurairah r.a. telah ternampak seseorang mengendap-gendap hendak mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itu pun hendak dibawanya berjumpa Rasulullah S.A.W. tetapi pencuri itu merayu minta dikasihani seraya menyatakan bahawa dia mencuri untuk menyarai keluarganya yang kelaparan.
Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskan pencuri itu dengan amaran agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Keesokkan harinya perkara tersebut dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. tersenyum lalu bersabda bahawa pencuri itu pasti akan kembali.
Ternyata keesokkan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah r.a. menangkap pencuri itu lalu hendak dibawanya berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. Sekali lagi, pencuri itu merayu sehinggakan Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi.

Keesokkan harinya, dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang mengulangi sabdanya bahawa pencuri itu pasti akan kembali.Apabila pencuri itu ditangkap sekali lagi Abu Hurairah r.a. mengancam akan membawanya berjumpa Rasulullah S.A.W. Pencuri itu merayu meminta dibebaskan sekali lagi lagi. 

Apabila Abu Hurairah r.a. enggan melepaskannya, pencuri itu menyatakan dia akan mengajar sesuatu yang baik sekiranya ia di bebaskan. Pencuri itu menyatakan bahawa sekiranya seseorang itu membaca ayat Kursi sebelum tidur syaitan tidak akan menggangguinya. Abu Hurairah r.a. merasa tersentuh mendengarkan ajaran pencuri itu lalu melepaskannya pergi.

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” 
(HR. Bukhari 2311) 

Keesokkan harinya dia melapurkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang bersabda, pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkan kepada Abu Hurairah r.a. itu adalah perkara yang benar. Sebenarnya pencuri itu adalah syaitan yang dilaknat. 


4. Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah

Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, mulai: [آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ] sampai selesai. Tepatnya surat Al-Baqarah ayat 285 dan 286. Dua ayat ini cukup bagi Anda dari segala sesuatu.


1. Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, sarat dengan kandungan makna iman, islam, bergantung kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, tawakkal kepada-Nya, diakhiri dengan permohonan ampunan dan rahmat.

2. Makna “dua ayat ini cukup bagi pembacanya” : dua ayat ini akan menjaganya dari segala keburukan, dan melindunginya dari segala yang dibenci. Ada sebagian ulama yang mengatakan; dua ayat ini menjadi sebab baginya untuk bangun malam. Sehingga mudah melakukan tahajud.
[keterangan Dr. Dib Bagha dalam Ta’liq Shahih Bukhari, 5/84]


Dari Abu Mas’ud Al-badri r.a,Rasulullah bersabda:
الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.” 
(HR. Bukhari 4008 & Muslim 807)

5. Zikir Pelepas Lelah

Manusia yang sedang menahan rasa sakit, terkadang membuat ianya sangat lemah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan zikir yang boleh menambah kekuatan bagi manusia, sehingga mengurangi kelemahan badan kerana sakit atau kerana aktiviti lainnya.Zikir itu adalah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali, sehingga genap 100.

Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ [SUBHAANALLAH]

Tahmid : الْحَمْدُ للهِ [ALHAMDULILLAH]

Takbir : اللهُ أَكْبَرُ [ALLAHU AKBAR]


Dari Ali bin Abi Thalib r.a, bahwa Fatimah pernah mengadukan tangannya yang melecet kerana sering mengiling makanan. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru memililki seorang budak. Fatimahpun datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berharap diberi budak sebagai pembantu), namun beliau tidak ada dan hanya menemui Aisyah. Fatimah menyampaikan keluhannya kepada Aisyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah memberitahu tentang kedatangan Fatimah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah). Sementara kami sudah di tempat tidur. Kamipun beranjak berdiri, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelahi: “Tetap di tempat.” Beliaupun duduk diantara kami, sampai aku boleh merasakan dinginnya kaki beliau sampai ke dadaku. Beliau bersabda:

ألا أعلمكما خيرا مما سألتما، إذا أخذتما مضاجعكما، أن تكبرا الله أربعا وثلاثين، وتسبحاه ثلاثا وثلاثين، وتحمداه ثلاثا وثلاثين، فهو خير لكما من خادم

“Akan aku ajari kalian, sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [ALLAHU AKBAR] 34 kali, tasbih [SUBHANALLAH] 33 kali, dan tahmid [ALHAMDULILLAH] 33 kali. itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” 
(HR. Bukhari 3113 dan Muslim 2727)

Semenjak mendengar petua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin 
(HR. Bukhari keterangan hadis no. 5362)
 
6. Agar Diwafatkan di Atas Fitrah

Sebelum tidur Anda berwudhu, ketika sudah berbaring, baca:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA, WA WAJJAHTU WAJHII ILAIKA, WA FAWWAD-TU AMRII ILAIKA, WA ALJA’-TU DZAHRII ILAIKA, RAGHBATAN WA RAHBATAN ILAIKA. LA MALJA-A WA LAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA. AAMAN-TU BI KITAABIKAL-LA-DZII ANZALTA WA BI NABIYYIKAL-LA-DZII ARSALTA

Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku Sandarkan diriku kepada-Mu, kerana mengahrapkan pahala-Mu dan takut adzab-Mu, tiada tempat bersandar dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utuskan.
Keutamaan:
Siapa yang membaca doa ini sebelum tidur, kemudian malam harinya dia meninggal, maka dia mati di atas fitrah (islam). Dan jika bangun di pagi hari, maka dia mendapat pahala.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، ….، فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ “

“Jika kamu hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu ketika solat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan dan ucapkan: Allahumma aslamtu nafsii ilaika…. Jika kamu meninggal maka kamu mati dia atas fitrah, dan jika bangun pagi maka kamu mendapatkan pahala. Jadikanlah bacaan ini yang terakhir kamu ucapkan.”
(HR. Bukhari 6311 dan Muslim 2710)

~wallahua'lam
~jaksa kortaraja
@ sila sertai network kami disebelah kiri @ sertai tapak kami disebelah untuk anda semua terus mendapat paparan secara auto-->>taip ''networkedblogs'' di atas sekali tapak carian facebook...
 

Solat menyerikan wajah, lalai solat,"Shajkul Akrak" menanti anda !!!


Dari Abu Malik Asya'ri r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Wudhu' ialah separuh dari iman Mengucapkan Al-hamdulillah memberati timbangan amal "Subhanallah Wal-Hamdulillah" memenuhi ganjaran di antara langit dan bumi
Sembahyang adalah nur

Sedekah adalah 'saksi'

Bersabar adalah cahaya, dan

Al-Quran menjadi pembela atau pendakwa kepadamu yakni sekiranya dibaca dan diamalkan dia akan menjadi pembela untukmu kalau tidak Al-Quran akan menjadi sebab tangkapan untukmu.
(HR Muslim)

KETERANGAN: Wudhu' sebahagian daripada Iman, Maksud daripada hadith ini ialah daripada Iman hati dapat disucikan daripada segala bentuk syirik dan kekufuran manakala wudhu' pula mencuci anggota dari kekotoran. Solat sebagai Nur bermaksud melalui solat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana cahaya yang menghilangkan kegelapan.

Makna kedua ialah solat akan menjadi cahaya pada hari kiamat. Di dunia juga wajah orang yang menjaga sembahyangnya akan sentiasa kelihatan berseri-seri dan segar.

Ketiga memberi makna; solat akan menjadi cahaya di alam kubur dan hari kiamat yang penuh dengan kegelapan. Sedekah sebagai saksi memberi maksud; Harta yang menjadi kecintaan bagi manusia apabila dibelanjakan dijalan Allah s.w.t atau disedekahkan kepada orang lain maka akan menjadi bukti keimanan dan janji akhirat. Sabar sebagai cahaya memberi maksud; orang yang bersabar melaksanakan segala perintah Allah s.w.t, meninggalkan segala bentuk kejahatan dan bersabar dari segala bentuk musibah yang menimpanya adalah menjadi nur hidayah pada dirinya. 


BALASAN BAGI YANG LALAI DALAM MENGERJAKAN SOLAT 5 WAKTU FARDU
6 seksaan semasa hidup didunia
1 - Ditinggalkan(hilangkan) berkat pada umurnya.
2 - Allah akan menghapuskan tanda-tanda orang soleh pada wajahnya.
3 - Setiap amal yg dikerjakan tidak diberi pahala padanya.
4 - Segala doanya tidak diperkenankan oleh Allah.
5 - Dia dimarahi dan dibenci olehh segala makluk di dunia.
6 - Tidak ada baginya bahagian daripada doa orang-orang soleh.

3 seksaan ketika hendak mati
1 - Dia mati dalam kehinaan.
2 - Mati dalam keadaan yang sangat lapar.
3 - mati dalam keadaan yang sangat haus, sehingga jika dituangkan kepadanya air laut dunia ini, dia tetap merasa tidak puas.

3 seksa didalam alam kubur
1 - disempit kuburnya.
2 - dinyalakan api, dimana dia akan membalik-balikkan dirinya didalam bara api itu.
3 - Allah mengerakkan ular yag paling besar utk menyebat mayat itu, yang mana dinamakan ular itu"Shajkul Akrak" dan ular itu akan berkata, sesungguhnya aku telah di suruh oleh Tuhanku memukul engkau dari subuh hingga asar, dengan sebab engkau sia-siakan waktu zuhur. Begitulah seterusnya tiap-tiap hari siang hingga  malam sehingga kiamat.


3 seksa dihari kiamat
1 - Allah memerintahkan Malaikat azab agar menghela orang yang tidak solat itu ke arah neraka.
2 - Allah menilik kepada orang yang tidak solat itu dengan tilikkan yang murka.
3 - Allah akan mengira orang yang tidak solat itu, dengan kiraan yang paling berat dan terus disumbat ke dalam neraka, sebagaiman Firman Allah s.w.t yg bermaksud: "Apa yang membawa kamu ke neraka?'' "Mereka menjawab, "Kami tidak sembahyang."

FIRMAN ALLAH SWT...''Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang, yang mengharapkan keredaan Allah semata-mata; dan janganlah engkau memalingkan pandanganmu daripada mereka hanya kerana engkau mahukan kesenangan hidup di dunia; dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam Al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran''.
(Al-Kahfi 18:28)

”SESUNGGUHNYA SOLAT YANG PALING BERAT BAGI ORANG YANG MUNAFIK, adalah solat Isya' dan solat subuh.. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, mereka pasti mendatangani keduanya, sekalipun dengan merangkak” 
(HR. Bukhari-Muslim).....

Isnin, 24 Disember 2012

AMSTRONG,AZAN DILANGIT,SURAH AZZARIAT,SUARA LEMBAH THUA

..pendaratannya hanya digurun padang pasir'' dibumi ini.....INI KERANA KAMERA YANG MEREKA RAKAM TELAHPUN BERADA DIATAS PERMUKAAN BULAN SEMASA MENUNJUKKAN MEREKA MENDARAT DU BULAN...SIAPA JURU...

Neil Armstrong adalah orang pertama yang mendarat di bulan. Neil pergi ke bulan menggunakan pesawat ruang angkasa USA bernama Apollo, bersama rekannya Buzz Aldrin. Pergi ke bulan merupakan hal yang amat menakjubkan bagi Neil. Saat-saat masa keberhasilannya itu tak pernah ia lupakan.

Sampai akhirnya 30 Tahun berlalu,

Saat itu Neil memutuskan untuk mengambil cuti kepada pihak NASA. Ia menghabiskan lawatannya dengan melancong ke Mesir. Ini kali pertama ia mengunjungi Kairo, atau pertama kalinya ia mengunjungi sebuah negeri Islam dalam rangka melancong mencari hiburan dan mengembalikan kesegaran setelah penat menghadapi rutinitas pekerjaan.

Beralih ke Mesir, akhirnya Neil bersama pelancong lain sampailah ke sebuah hotel yang terletak di tengah kota Kairo. Setelah selesai menguruskan pendaftaran, dia berjalan  menuju biliknya untuk beristirehat setelah letih menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Amerika menuju Kairo. Dan ketika dia berbaring di ranjang, tiba-tiba terdengarlah kumandang azan...
''Allahuakbar ''...'' Allahuakbar...''

Ketika mendengar seruan itu, dia berfikir bahawa ini bukan pertama kali ia mendengar seruan seperti ini. Neil berfikir sejenak dimana dia pernah mendengarnya sebelumnya? Neil terus berusaha mengingat, tetapi dia tetap tidak mampu menemukan jawabannya.

Kemudian ia duduk, berdiri dan berjalan menuju kamar kecil, kemudian pergi mengambil makanan ''fast food''(segera) sebelum turun untuk makan malam diruang legar ruangan bawah . Di ruang makan ketika dia sedang menikmati makanannya sambil bersembang bersama  2 orang temannya, kembali terdengar berkumandang azan dari salah satu menara masjid yang banyak tersebar di Kairo, ia pun lantas terdiam, mencuba menyemak dan menghayati lirik-lirik kalimat-kalimat azan yang didengarnya.

Kemudian dia berseru memanggil salah seorang pelayan yang ada di sana dan bertanya dengan bahasa Inggris, “Apakah kamu boleh berbahasa Inggeris?”
Si pelayan menjawab, “Boleh sedikit-sedikit tuan.”
Neil tersenyum dan berkata, “bunyi  apa yang baru tadi  kedengaran di luar seluruh kota ini?”
Pelayan tadi menjawab, “Maaf, saya tidak mengerti maksud tuan.”
Neil berisyarat mengumandangkan azan dengan pelat-pelat inggerisnya, “Allahu akbar... Allahu akbar...”

Pelayan itu kemudian berkata, “Itu panggilan untuk solat, panggilan kepada seluruh kaum muslim untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan solat yang dilakukan 5 kali sehari.”

Neil pun mengucapkan terima kasih atas penjelasannya. Kemudian dia meneruskan menikmati makan malamnya dengan duduk diam tanpa berkata apapun. Tiba-tiba ia bangun dan meninggalkan teman-temannya lalu naik menuju biliknya sambil berfikir, “Pasti aku mendengarnya di salah satu filem yang pernah aku tonton”. Sejenak dia berhenti berfikir, “Ataupun mungkin di tempat lain?”katanya didalam hati.

“Ahhhh..!! tidak, bukan di filem, aku mendengarnya dengan telingaku sendiri menggema di udara, tetapi dimana?” Sampai dia beranjak tidur, persoalan ini masih bermain dikepalanya. Ketika fajar menyingsing, Neil terbangun oleh suara azan yang kembali berkumandang membelah angkasa:

''Allahu akbar...''..''Allahu Akbar...''

Dia pun segera bangun, duduk di tepi katil seraya menumpukan segenap perhatiannya untuk mendengarkan suara itu, sehingga dengan berakhirnya azan berkumandang , Neil teringat kembali bayangan 30 tahun silam yang masa itu merupakan masa gemilang dalam hidupnya. Ketika itu dia mengendalikan pesawat luar angkasa milik USA, Apollo, yang merupakan pesawat pertama dalam sejarah yang mampu mendarat di bulan. Tiba-tiba dia sedar bahwa “Ya, di sanalah aku mendengar seruan ini untuk pertama kalinya dalam hidupku.” ungkapnya berseorangan.
Kemudian dia berseru dalam bahasa Inggeris tanpa sedar, “Wahai Allah yang Maha Suci, Ya Allah, benar aku ingat bahwa di sanalah, di permukaan bulan itu aku dengar seruan itu untuk pertama kalinya dalam hidupku, dan di sini, di Kairo, aku mendengarnya di bumi.”

Kemudian dia membaca majalah untuk memejamkan mata untuk kembali tidur, tetapi dia tidak boleh, diambilnya sebuah buku dari dalam begya dan mula membacanya untuk merintang waktu hingga pagi menjelang, dia membaca tetapi fikirannya melayang entah kemana dan dia sama sekali tidak faham isi buku yang dibacanya.
Dalam hati dia berharap untuk mendengar lagi seruan itu. Hingga pagi dia membaca seperti itu dengan harapan akan kembali mendengar suara azan, tetapi seruan yang ditunggu tidak kunjung terdengar.

Akirnya dia bangun dan pergi ke bilikair dan mencuci mukanya, lantas  dengan cepat dia turun ke ruang makan untuk bersarapan. Setelah itu duduk bersama sekelompok pelancong yang sedang bersarapan, sementara itu seluruh pancainderanya dipasang untuk menantikan saat dimana dia akan kembali mendengar  seruan yang mengiang ditelingnya. Dia ingin meyakinkan dirinya sebelum memberitahukan pelancong  yang lain akan hal penting ini.

Kemudian rombongannya pergi melawat memasuki sebuah Muzium Fir’aun dan di saat itu ia kembali mendengar kumandang azan yang mengalun merdu dengan irama yang indah dari sebuah pembesar suara di muzium. Neil meninggalkan rombongannya dan berdiri di samping pembesar suara itu sambil memperhatikan dengan teliti, di pertengahan azan dia berseru memanggil temannya, “ Hei, ke sini, dengarkan seruan ini”.

Teman-temannya datang menghampiri dengan kehairanan. Ketika salah seorang kelihatan akan berbicara, Neil memberi isyarat kepadanya agar diam dan mendengarkan seruan itu. Barulah setelah azan selesai, Neil bertanya kepada mereka, “Apakah kalian mendengarnya?”
“ya”, jawab mereka.

“Tahukah kalian dimana aku pernah mendengarnya sebelum ini? Aku mendengarnya di permukaan bulan pada tahun 1969.”

Berkata rakan karibnya, “Mr. Armstrong, mari kita kesana untuk bicara sebentar.” Kemudian mereka berdua pergi ke salah satu sudut dan mulai bercakap-cakap tentang perasaannya yang aneh.

Tak lama kemudian Neil meninggalkan rombongannya dan mengambil teksi untuk pulang ke hotel, di wajahnya terlihat kemarahan dan emosi yang berkecamuk. “Bagaimana mungkin dia berkata bahwa aku mengada-ada dan aku telah gila?” fikirnya.

Neil berdiri dibiliknya selama 2 jam sambil berbaring di atas ranjang sambil menunggu-nunggu suara azan kembali, dan saat itu terdengarlah azan Ashar.

''Allahu Akbar...''..'' Allahu Akbar...''

Neil bangung turun dari katil, berdiri lalu membuka jendela dan untuk kesekian kalinya memperhatikan seruan itu, kemudian dia berteriak melalui muka jendela, “Tidak, aku belum gila, aku tidak gila, aku bersumpah demi Allah bahwa inilah yang aku dengar di permukaan bulan.”Neil turun ke ruang makan agak terlambat agar tidak bertemu dengan temannya.

Sampailah ketika hari lawatan berakhir, Neil beserta pelancong lain akan pulang ke Amerika. Neil sengaja menghindari semua teman-teman seperjalannya, hingga mereka kembali ke Amerika. Di Amerika Neil berusaha mendalami agama Islam, di saat itu dia mulai tertarik dengan Islam. Akhirnya, beberapa bulan kemudian , Neil mengumumkan keislamannya, dan menlafazkan ''
Asyhadu anlaa ilaaha illallaah...
Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah'' . 

Dalam suatu wawancara bahwa dia menyatakan masuk Islam kerana dia telah mendengar kumandang azan dengan telinganya sendiri di permukaan bulan. Tetapi tak lama kemudian datanglah sepucuk surat dari NASA, berisi keputusan tentang pemecatannya dari pekerjaannya. Pendek kata, NASA berlepas diri dan tidak mahu membantu astronot yang pertama mendarat di bulan itu, kerana dia menyatakan diri masuk Islam, dan menyangkal tentang terdengarnya azan di permukaan bulan.

Neil Armstrong berseru dalam sebuah majalah mempertanyakan pertanggungjawaban mereka perihal keputusan pemecatannya, “Memang aku kehilangan pekerjaanku, tetapi aku menemukan Allah”..

walau apapun....cerita diatas ini bukanlah satu kesahihan ceritanya kerana semasa waktu jaksa sekolah dulu pun pernah dengar tentang cerita demikian...

@ untuk makluman semua suara azan gelombangnya adalah sangat halus dan boleh menembusi langit,maka tidak hairanlah binatang boleh mendengar suara dari langit,cuma manusia dan jin sahaja yang ditutupi pendengarannya. Dalam sebuah hadis Abu Salamah daripada Jabir yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata: “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. ketika bersabda mengenai putusnya wahyu, beliau menyebut dalam percakapannya itu, “Sewaktu aku berjalan, aku terdengar suara dari langit. Kemudian aku angkat kepala-ku, tiba-tiba aku ternampak malaikat yang mendatangi aku di gua Hira’ duduk di atas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan: Selimutkanlah aku!
Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan ayat,

                                                           يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ .
Hadith ini menggambarkan peristiwa ini terkemudian daripada peristiwa di gua Hira’, atau al-Muddathir adalah surah yang pertama diturunkan setelah terputusnya wahyu. Dapat disimpulkan ayat pertama untuk kenabian ialah Iqra’ dan surah pertama untuk risalah ialah surah al-Muddathir.



KISAH NABI MUSA DAN SUARA LANGIT..

"Wahai Musa." (QS. Thaha: 11)
Musa mengangkat kepalanya dan berkata: "Ya." Allah berkata:
"Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu." (QS. Thaha: 12)
Musa semakin menggigil dan berkata: "Benar wahai Tuhanku."
Allah s.w.t berkata:
"Maka lepaskanlah kedua sepatumu sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci yang bernama Thua'." Musa tertunduk dan rukuk sementara tubuhnya tampak gementar dan beliau mulai melepas sandalnya Allah s.w.t berkata:
Maka tinggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa'. " 
(QS. Thaha: 12)

Musa rukuk dan melepas kedua sepatunya. Kemudian Allah s.w.t kembali berkata:
"Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa." (QS. Thaha: 13-16)

Musa semakin gementar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog dengan Allah s.w.t. Allah s.w.t yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang berkata:"Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa (QS. Thaha: 17)
Bertambahlah kehairanan Nabi Musa. Allah s.w.t adalah Zat yang mengajaknya berbicara dan tentu Dia lebih mengetahui daripada Musa tentang apa yang dipegangnya, lalu mengapa Allah s.w.t bertanya kepadanya jika memang Dia lebih mengetahui darinya. Tak ragu lagi bahawa di sana ada hikmah yang tinggi. Musa menjawab pertanyaan itu dengan suaranya yang tampak mengigil:
"Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." (QS. Thaha: 18)

Allah berfirman:
"Lemparkanlah ia, hai Musa!" (QS. Thaha: 19)
Musa melemparkan tongkatnya dari tangannya dan rasa hairannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba Musa dikejutkan ketika melihat tongkat itu menjadi ular yang besar. Ular itu bergerak dengan cepat. Musa tidak mampu lagi menahan rasa takutnya. Musa merasa tubuhnya bergetar kerana rasa takut. Musa membalikkan tubuhnya kerana takut dan ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua langkah, Allah s.w.t memanggilnya:
"Hai Musa, janganlah kamu takut, sesungguhnya orang yang menjadikan rasul, tidak takut di hadapanku. " (QS. an-Naml: 10)
"Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. "
(QS. al- Qashash: 31)

Musa kembali memutar badannya dan berdiri. Tongkat itu tampak bergerak dan ular itu pun tetap bergerak. Allah s.w.t berkata kepada Musa:
"Peganglah ia dan janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. "
(QS. Thaha: 21)Musa menghulurkan tangannya ke ular itu dalam keadaan menggigil. Musa belum sempat menyentuhnya sehingga ular itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah Allah s.w.t terjadi dengan cepat. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepadanya:
"Masukanlah tanganmu ke leher bajumu, nescaya ia keluar putih tidak bercacat bukan kerana penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan. "
(QS. al-Qashash: 32)
Musa meletakkan tangannya di kantongnya lalu ia mengeluarkannya dan tiba-tiba tangan itu bersinar bagaikan bulan. Kembali rasa kagum Musa bertambah. Lalu ia meletakkan tangannya di dadanya sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t padanya sehingga rasa takutnya benar-benar hilang.



@ mungkinkah amerika/Nasa takut akan berita kepalsuan mereka pergi kebulan,yang mana sebenarnya '' PENDARATANNYA HANYA DIGURUN PADANG PASIR''pendaratannya hanya digurun padang pasir'' dibumi ini.....INI KERANA KAMERA YANG MEREKA RAKAM TELAHPUN BERADA DIATAS PERMUKAAN BULAN SEMASA MENUNJUKKAN MEREKA MENDARAT DU BULAN...SIAPA JURU KEMERANYA ?? 
SILA LIHAT LINK /RANGKAIAN BIRU DIATAS....


@ mungkin kerana fakta keagamaan dan pengaruh atau penipuan.... amerika dan arab sendiri menafikan keislamannya walaupun dia(neil)kini telah menghembuskan nafasnya pada 25 Ogos 2012 yang lalu....

@ jika julai 1969 appollo berjaya selamat pergi dan balik.SEPATUTNYA KINI MANUSIA DAH ADA YANG MENETAP DIBULAAN ATAU MANUSIA KERAP PERGI KEBULAN .HINGGA KINI TIADA MANUSIA YANG MENDARAT KEBULAN WALAUPUN TEKNOLOGI ANGKSA  KINI ADALAH JAUH LEBIH CANGGIH JIKA DIBEZAKAN MASA ZAMAN HUJUNG 60-AN  ....jadi benarkah '' pesawat appolo'' dapat membawa manusia pergi dan balik ke bulan ???..Anda sebagai pembaca ada jawapannya...

~WALLAHU'ALAM
~JAKSA KOTARAJA

Siti Fatimah Az Zahra dan perkhawinan kisah dari Ummu Salamah

Siti Fatimah Az Zahra r.a mencapai puncak keremajaan dan kecantikannya ketika Islam dibawa Nabi Muhammad SAW sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Siti Fatimah Az Zahra r.a benar-benar telah menjadi anak gadis remaja.

Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pemuda terhormat yang menaruh harapan ingin mempersuntingkan puteri Rasulullah SAW itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Ansar telah berusaha melamarnya. Menangani lamaran itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahawa baginda sedang menanti datangnya petunjuk dari Allah SWT mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar As Siddiq r.a, Umar Ibnul Khattab r.a dan Saad bin Muaz bersama-sama Rasulullah SAW duduk dalam masjid baginda. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasulullah SAW. Ketika itu baginda bertanya kepada Abu Bakar As Siddiq r.a, “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib?”

Abu Bakar As Siddiq r.a menyatakan kesediaannya. Ia berangkat untuk menghubungi Sayyidina Ali r.a. Sewaktu Sayyidina Ali r.a melihat datangnya Abu Bakar As Siddiq r.a dengan tergopoh-gopoh, ia menyambutnya dengan terperanjat kemudian bertanya, “Anda datang membawa berita apa?”

Setelah duduk rehat sejenak, Abu Bakar As Siddiq r.a segera memperjelaskan persoalannya, “Wahai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai lebih keutamaan dibandingkan dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian juga engkau adalah kerabat Rasulullah. SAW. Beberapa orang Sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada baginda untuk dapat mempersuntingkan puteri baginda. Lamaran itu semuanya baginda tolak. Baginda menyatakan, bahawa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah SWT. Akan tetapi, wahai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri baginda itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu.”

Mendengar perkataan Abu Bakar r.a itu, mata Sayyidina Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Sayyidina Ali r.a. berkata, “Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.”

Abu Bakar r.a terharu mendengar jawapan Sayyidina Ali yang menyentuh perasaan itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Sayyidina Ali r.a, Abu Bakar berkata, “Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!”

Setelah berlangsung dialog seterusnya, Abu Bakar r.a berjaya mendorong keberanian Sayyidina Ali r.a. untuk melamar puteri Rasulullah SAW.

Beberapa waktu kemudian, Sayyidina Ali r.a datang menghadap Rasulullah SAW yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salamah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah yang mengetuk pintu?” Rasulullah menjawab, “Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!”

Jawapan Nabi Muhammad SAW itu belum dapat memuaskan hati Ummu Salamah r.a. ia bertanya lagi, “Ya, tetapi siapakah dia itu?”
“Dia saudaraku, orang kesayanganku!” jawab Nabi Muhammad SAW.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahawa Ummu Salamah di kemudian hari mengisahkan pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Sayyidina Ali r.a kepada Nabi Muhammad SAW itu: “Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terhantuk-hantuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempatku semula. Dia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah SAW. Ia dipersilakan duduk di depan baginda. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud tetapi malu hendak mengutarakannya.

Rasulullah mendahului berkata, “Wahai Ali, nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!”

Mendengar kata-kata Rasulullah SAW itu, lahir keberanian Ali bin Abi Thalib untuk berkata, “Maafkanlah aku, ya Rasulullah. Engkau tentu ingat bahawa engkau telah mengambil aku dari bapa saudara engkau, Abu Thalib dan ibu saudara engkau, Fatimah binti Asad, ketika aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa. Sesungguhnya Allah telah memberi hidayah kepadaku melalui engkau juga. Dan engkau, ya Rasulullah, adalah tempat aku bernaung dan engkau jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan Akhirat. Setelah Allah membesarkan aku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga, hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri engkau, Fatimah. Ya Rasulullah, apakah engkau berkenan menyetujui untuk menikahkan diriku dengannya?”

Ummu Salamah meneruskan kisahnya, “Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, “Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kahwin?”

“Demi Allah,” jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, “Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.”
“Tentang pedangmu itu,” kata Rasulullah menanggapi jawapan Ali bin Abi Talib, Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para Sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: “Bahawasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kahwin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”

“Ya, Rasulullah, itu kuterima dengan baik, “ jawab Ali bin Abi Tali r.a dalam pernikahan itu.

Demikianlah berlakunya pernikahan antara dua orang yang sangat dicintai oelh Rasulullah SAW yakni puterinya, Siti Fatimah dan Sahabat yang jua merupakan sepupu baginda yakni Sayyidina Ali. Rasulullah SAW mendoakan keberkahan atas perkahwinan itu.

Sejarah menyaksikan bahawa Fatimah puteri Rasulullah adalah seorang wanita mulia yang menempuh berbagai ujian yang memerlukan pengorbanan yang cukup besar dalam hidupnya. Walaupun beliau adalah puteri Rasulullah, namun hidupnya bukannya disaluti kemewahan dan kesenangan, tetapi kemiskinan dan kesusahan. Apabila berkahwin dengan Saidina Ali, kehidupannya tetap susah. Walaupun Rasulullah pemilik kepada seluruh kekayaan di muka bumi tapi baginda tidak pernah mendidik anaknya dengan kemewahan.

Sewaktu menjadi isteri Sayyidina Ali, Siti Fatimah menguruskan sendiri keperluan rumahtangganya. Sayyidina Ali sering tiada kerana keluar berjuang bersama Rasulullah SAW. Setiap hari, Siti Fatimah mengangkut air dari sebuah perigi yang jauhnya dua batu dari rumahnya. Beliau mengisar tepung untuk keperluan makanan keluarganya. Dalam serba susah dan miskin, beliau tetap ingin bersedekah walaupun hanya dengan sebelah biji kurma. Siti Fatimah tidak pernah mengeluh atau menyalahkan suaminya terhadap kesusahan yang terpaksa dihadapinya. Bahkan dikatakan bahawa seluruh kesusahan wanita di dunia ini telah ditanggung oleh beliau sehingga beliau tidak perlu dipologamikan. Wanita mulia ini sangat pemalu dan sangat menjaga maruah dirinya.

Sewaktu Rasulullah SAW hampir wafat, dia menemani ayahnda kesayangannya itu. Ketika itu Rasulullah SAW telah berbisik ke telinga kanannya. Rasulullah memberitahu Siti Fatimah bahawa sudah sampai masanya untuk baginda mengadap Tuhan. Siti Fatimah sungguh sedih kerana akan berpisah dengan ayah yang sangat dikasihinya. Kemudian baginda berbisik ke telinga kirinya pula. Siti Fatimah tersenyum gembira. Rupa-rupanya, Rasulullah SAW menyatakan bahawa Siti Fatimah adalah orang yang pertama yang akan menyusuli baginda.

Siti Fatimah meninggal di usia 28 tahun, lebih kurang lima bulan selepas wafatnya Rasulullah SAW.

PESANAN RASULULLAH KEPADA WANITA


..Mana-mana wanita yang berdiri di atas kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api, maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka...

Suatu kisah zaman rasullullah dimana seorang wakil telah dilantik dari kaum wanita untuk bertemu dengan Rasulullah SAW untuk meminta baginda SAW memberi ucapan khusus untuk kaum wanita. Baginda bersetuju dan menyuruh mereka berkumpul di Baabun Nisaa'. Setelah kaum wanita berkumpul, Bilal pergi memanggil Rasulullah SAW. Baginda pun pergi ke sana, dan memberi salam dan memberi tazkirah seperti berikut:

"Assalamu'alaikum, wahai kumpulan/kaum wanita.
Wahai kaum wanita, aku lihat kamu ini lebih banyak di neraka".

Seorang wanita lalu bangun bertanya, "Apakah yang menyebabkan yang demikian? Adakah sebab kami ini kufur?' 


Rasulullah SAW menjawab, "Tidak. Bukan begitu. Tetapi ada 2 tabiat kamu yang tidak elok yang boleh menjerumuskan kamu ke dalam neraka:

1. Kamu banyak mengutuk/menyumpah(mensyukuri)
2. Kamu kufurkan kebaikan suami."

Kemudian baginda SAW mengingatkan supaya :
1. Banyak beristighfar
2. Banyak bersedekah.

ANTARA PESANAN RASULLULLAH SAW

1) Dunia ini ialah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.
 (Riwayat Muslim).

2) Mana-mana perempuan yang memakai bau-bauan kemudian ia keluar melintasi kaum lelaki ajnabi, agar mereka mencium bau harumnya maka ia adalah perempuan zina,dan tiap-tiap mata yang memandang itu adalah zina. (Riwayat Ahmad, Thabarani dan Hakim)

3) Dikahwini wanita itu kerana empat perkara: kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya, maka carilah yang kuat beragama nescaya kamu beruntung.
4) Wanita apabila ia sembahyang lima waktu, puasa sebulan Ramadhan, memelihara kehormatan serta taat pada suami, maka masuklah mana-mana pintu syurga yang ia kehendaki. (Riwayat dari Ahmad Ibnu Hibban, Thabarani, Anas bin Malik).

5) Perempuan yang melabuhkan pakaian dalam keadaaan berhias bukan untuk suaminya dan muhrimnya adalah seumpama gelap gelita di hari kiamat, tiada nur baginya. (Riwayat Tarmizi)

6) Apabila lari seorang wanita dari rumah suaminya, tidak diterima sembahyangnya, sehingga ia kembali dan menghulurkan tangan kepada suaminya (meminta maaf). (Riwayat dari Hassan).

7) Wanita yang taat pada suami, semua burung-burung di udara, ikan diair, malaikat di langit, matahari dan bulan semuanya beristigfar baginya selama ia masih taat pada suaminya dan diredainya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).

8) Dari Muaz bin Jabal bersabda Rasululllah SAW: Mana-mana wanita yang berdiri di atas kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api, maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.

9) Tiap-tiap wanita yang menolong suaminya di dalam urusan agama, maka Allah memasukkanya dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (sepuluh ribu tahun) kerana dia memuliakan suaminya di dunia maka mendapat pakaian dan bau-bauan syurga untuk turun ke mahligai suaminya dan mengadapnya.

10) Ya Fatimah, jika seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan memotong kumisnya dan mengerat kukunya, diberi minum Allah akan dia sungai syurga, diiringi Allah baginya sakaratul maut dan akan didapati kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga serta dicatatkan Allah baginya kelepasan dari neraka dan selamatlah ia melintasi titian Siratul-mustaqim.

11) Mana-mana wanita yang berkata kepada suaminya “tidak pernah aku dapat dari engkau satu kebajikan pun”. Maka Allah akan hapuskan amalannya selama 70 tahun, walaupun ia berpuasa siang hari dan beribadah pada malamnya.

12) Apabila wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya, Allah mencatatkan baginya setiap hari seribu kebajikan dan menghapus baginya seribu kejahatan.

13) Apabila wanita mulai sakit untuk bersalin, Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah (perang sabil)

Ahad, 23 Disember 2012

UMMUL MUKMININ YANG AKHIR MENINGGAL DUNIA

 ...sesungguhnya tiang agama tidak akan kukuh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring(condong), dan tidak boleh diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”

“ Ummu Salamah adalah wanita terhormat, berhijab dan suci. Namanya Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah Al-Makhzumiyah. Ummu Salamah merupakan sepupu kepada Khalid bin Walid yang digelar Pedang Allah dan Abu Jahal bin Hisyam.D
ilahirkan di Makkah, tahun ke 30 sebelum Hijrah.  Dia termasuk wanita yang pertama kali berhijrah. Sebelum menjadi isteri Nabi Muhammad s.a.w, Ummu Salamah menikah dengan Abu Salamah bin Abdul Asad Aal-Makhzumi, seorang lelaki yang soleh.”


Mari kita melirik sejenak kehidupan Ummu Salamah sebelum kedatangan islam. Ummu Salamah adalah seorang wanita yang sangat terhormat dan mulia, berasal dari keluarga yang terhormat kerana beliau berasal dari bani Makhzum. Ayahnya juga adalah seorang tokoh Quraisy yang dermawan dan pemurah dan selalu memberi bekal kepada musafir yang kehabisan bekal. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dermawan membuatkan Ummu Salamah menjadi seorang yang dermawan, mempunyai hati yang bersih serta sangat menghayati erti belas kasihan sehingga memancarlah kebaikan dan kemurahan hatinya kepada manusia.
Asal gelaran Ummu Salamah ialah, apabila Hindun melahirkan seorang anak bernama Salamah disana lalu mendapat gelaran
“Ummu Salamah” - ibu Salamah.

Sejak kecil lagi Ummu Salamah sudah menampakkan keperibadian yang kuat untuk menjadi wanita terhormat. Beliau juga memiliki rupa paras yang cantik jelita. Setelah meningkat dewasa, Ummu Salamah dipinang oleh Abdullah(Abu Salamah) bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Abu Salamah merupakan seorang pemuda Quraisy yang terkenal dengan kesatriaan beliau menunggang kuda, beliau juga saudara sesusu Nabi Muhammad s.a.w. Pernikahan Hindun (Ummu Salamah) dan Abu Salamah dilangsungkan dan mereka hidup bahagia. Setelah Islam tersebar ke Mekah, Ummu Salamah dan suaminya termasuk antara yang segera beriman kepada Allah s.w.t.

Ketika hendak berhijrah ke Madinah, Ummu Salamah dan suaminya mengalami peristiwa yang amat memilukan. Ketika Abu Salamah, Ummu Salamah dan putera mereka, Salamah bin Abu Salamah sedang bersiap sedia mahu ke Madinah, berlaku pergaduhan antara keluarga bani Asad dan Bani Mughirah. Keluarga bani Mughirah (keluarga Ummu Salamah) tidak membenarkan Abu Salamah membawa Ummu Salamah pergi ke Madinah manakala bani Asad ( keluarga Abu Salamah) pula tidak membenarkan anak mereka ( Salamah) bersama Ummu Salamah. Setelah itu keluarga bani Mughirah dan bani Asad merebut putera mereka dan keluarga bani Asad berjaya mendapatkan putera Ummu Salamah. Ummu Salamah dibawa pulang oleh keluarganya ( bani Mughirah), anaknya dibawa oleh keluarga suaminya (bani Asad) manakala suaminya, Abu Salamah meneruskan perhijrahan ke Madinah. Maka Ummu Salamah terpisah dengan anak dan suaminya. Namun begitu Ummu Salamah diberi kesabaran yang tinggi untuk terus sabar melalui ujian itu.

Sejak terpisah dengan suami dan anaknya, setiap pagi Ummu Salamah akan pergi ke tanah lapang dan duduk sambil menangis. Hal itu dilakukan selama setahun sehingga pada suatu hari seorang sepupunya dari bani Mughirah melihatnya dan berkata kepada keluarga bani Mughirah yang lainya;

“ Tidakkan kalian merasa simpati terhadap wanita malang itu? Kalian telah memisahkannya dari suami dan anaknya.”

Tidak lama selepas itu keluarga bani Mughirah membenarkan Ummu Salamah pergi mencari suaminya di Madinah. Keluarga bani Asad juga mengembalikan puteranya, Salamah kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah mengeluarkan untanya dan membawa bersama puteranya keluar mencari suaminya. Beliau memulakan perjalanan sendirian bertemankan puteranya yang masih kecil, namun pergantungannya kepada Allah sentiasa melebihi segala-galanya.


Di dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Utsman bin Thalhah dan Utsman membantu perjalanannya sehingga beliau bertemu dengan suami tercinta, Abu Salamah.Sewaktu sampai di at-Tan’im Ummu Salamah bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:’Hendak kemana anda wahai puteri Zaad ar-Rakbi?’. ‘Aku hendak menyusul suamiku di Madinah”, jawabnya. Utsman berkata: ‘apakah ada seseorang yang menemanimu?. Ummu Salamah menjawab: ‘Tidak! demi Allah! melainkan hanya Allah kemudian anakku ini’. Dia menyahut: ‘Demi Allah engkau tidak boleh ditinggalkan sendirian’. 

Selanjutnya dia memegang tali kekang unta dan menuntunnya untuk menghantar Ummu Salamah. Demi Allah tiada aku kenal seorang laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah. Apabila  singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan aku berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata: ‘Naiklah!’. Apabila aku sudah naik ke atas unta dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga mereka sampai di Madinah. 

Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba’ yang merupakan tempat dimana suaminya, Abu Salamah berada di tempat hijrahnya. Dia berkata:’Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan berkah Allah’. Sementara Ustman bin Thalhah langsung kembali ke Mekah”...diceritakan semula kisahnya kepada suaminya,Abu Salamah.
 Setelah bertemu dengan suaminya di Madinah, Ummu Salamah hidup bahagia dan dapat beribadah dengan tenang dan bertaqwa serta menggali setiap bentuk kebaikan daripada Rasulullah s.a.w. Ummu Salamah berusaha keras mendidik empat anaknya ( Zainab, Umar, Salamah dan Durrah) dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah.

Ummu Salamah sangat menyokong suaminya untuk berjuang di medan jihad. Beliau setia menyembuhkan luka-luka pada badan suaminya seusai peperangan,sehinggalah suaminya mengalami kecederaan teruk ketika perang Uhud. Ketika terbaring menanti detik kematian, terjadilah perbualan yang sangat mengharukan antara Abu Salamah dan Ummu Salamah. Ziyad bin Abu Maryam menuturkan, saat itu Ummu Salamah berkata,
“Aku mendengar bahawa jika seorang isteri ditinggal mati oleh suaminya, sementara suaminya itu menjadi penghuni syurga, lalu isterinya tidak menikah lagi, maka Allah akan mengumpulkan mereka kembali di dalam syurga. Kerana itu aku bersumpah bahawa engkau tidak akan menikah lagi (seandainya aku yang mati terlebih dahulu) dan aku tidak akan menikah lagi setelah engkau mati.”
Abu Salamah berkata, “Adakah engkau mahu taat kepadaku?”
Ummu Salamah menjawab, “ya.”
Abu Salamah berkata,'' Jika aku mati terlebih dahulu maka menikahlah lagi''. Ya Allah, jika aku mati maka berilah Ummu Salamah seorang suami yang lebih baik dariku yang tidak akan membuatnya sedih dan tidak akan menyakitinya''


Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.”

Tidak lama selepas itu, Abu Salamah meninggal dunia. Allah memakbulkan doa Abu Salamah apabila setelah kematiannya, Allah mendatangkan insan paling mulia kepada Ummu Salamah. Setelah kematian suaminya, Rasulullah s.a.w telah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah menemui Ummu Salarnah dengan maksud meminangnya untuk beliau
 (Rasulullah s.a.w ).(Setengah perpendapat Rasulullah s.a.w  sendiri meminang Ummu Salamah.) Ummu Salamah berkahwin dengan Rasulullah s..a.w dan termasuk dalam keluarga yang mulia dan suci. Betapa Allah mengagungkan Ummu Salamah, keagungan yang tiada tolak bandingnya dengan dunia dan seluruh isi dunia. Ummu Salamah menjalani kehidupan yang sangat bahagia dan barakah bersama Rasulullah s.a.w.

Dalam bulan syawal, tahun ke 4 Hijrah, Rasulullah s.a.w. menikahi Ummu Salamah.
Rasulullah  datang meminangnya dengan tujuan;
1)Untuk menghilangkan rasa sedih serta menghormati jasa-jasa suaminya terhadap Islam.
2)Untuk sama-sama memelihara anak-anak yang ditinggal oleh ayahnya demi Islam.
3)Untuk memuliakan serta menghormati isteri dari golongan orang yang baik-baik.
4)D
apat memecah tembok permusuhan dengan kabilah Bani Makhzun terhadap Islam dan memadamkan kebencian mereka.  

Pada waktu Rasulullah menyatakan hasratnya untuk mengahwininya, Zainab berkata, "Hamba ini sudah tua dan mempunyai beberapa orang anak yatim. Dan semua orang tahu betapa hamba sangat sayangkan suami hamba itu. Lagi pun, hamba adalah seorang wanita yang sangat cemburu.Aku juga tidak mempunyai wali yang menyaksikan."
Mendengar ini, Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya saya lebih tua dari mu, ya Ummu Salamah. Adapun tentang anak-anakmu ada Tuhan yang melindungi mereka dan Tuhan tidak akan mensia-siakan mereka. Mereka di bawah jagaan Tuhan serta dalam pemeliharaan Rasul-Nya. Tentang dirimu pula, Tuhan akan menggantikan dengan suami yang lebih baik dari Abdullah dan cemburumu itu, Allah akan menghilangkannya."

 Ummu Salamah menjadi seorang isteri yang sangat baik kepada Rasulullah s.a.w. Beliau banyak membantu dakwah Rasulullah s.a.w kerana beliau memiliki pemikiran yang bernas. Diceritakan dalam satu kisah ketika perjanjian Hudaibiyah, setelah selesai menandatangani perjanjian damai dengan kaum musyrik, Rasulullah s.a.w berkata kepada para sahabatnya,
“ Bersiap-siaplah, sembelihlah haiwan-haiwan korban kalian dan cukurlah rambut kalian.”

Namun, saat itu tidak ada seorang pun sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah baginda walaupun perintah itu diulang sebanyak tiga kali oleh Rasulullah s.a.w. Melihat tidak ada tindakan dari pihak sahabatnya, Rasulullah lantas masuk ke khemah dan menemui Ummu Salamah, menceritakan kejadian tersebut. Disinilah Ummu Salamah memainkan peranannya dengan baik sekali. Wanita yang punya pemikiran yang hebat ini menyelamatkan para sahabat dari derhaka kepada Rasulullah s.a.w. Ummu Salamah berkata;
“ Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu mengerjakan perintahmu? Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum engkau menyembelih haiwan korbanmu, memanggil pencukur untuk mencukur rambutmu.”

Rasulullah s.a.w mengikut saranan Ummu Salamah. Baginda keluar tanpa berbicara dengan siapa pun lalu menyembelih haiwan korbannya serta mencukur rambutnya. Ketika para sahabat melihat tindakan baginda, para sahabat lantas bangkit dan menyembelih haiwan korban mereka serta mencukur rambut mereka.

Ummu Salamah juga sangat menyayangi orang-orang yang ada disekelilingnya. Beliau akan sentiasa bahagia jika dapat memberi khabar gembira kepada orang sekelilingnya. Beliau juga yang menyampaikan khabar kepada Abu Lubabah bahawa Allah telah menerima taubatnya. Ummu Salamah juga pernah memujuk Rasulullah untuk memaafkan Abu Sufyan bin Harits dan Abdullah bin Abu Umayyah. Ketika mereka berdua ingin menemui Rasulullah s.a.w di Abwa’, mereka berusaha mengadap baginda namun ketika melihat kedatangan mereka, Rasulullah lantas memalingkan muka kerana tidak dapat menerima perlakuan mereka selama ini yang sangat menyakitkan baginda(disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap kaum muslimin menjelang beliau hijrah dari Mekah). Namun Ummu Salamah bertindak memujuk Rasulullah dengan berkata;
“ Wahai Rasulullah, bagaimanapun mereka bukanlah orang yang paling menyakitimu selama ini.” Akhirnya hati beliau menjadi luluh, lalu mengizinkan keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan menyatakan keislaman serta bertobat di hadapan Rasulullah.


Sikapnya terhadap Fitnah

Ummu Salamah selalu berada di rumahnya, senantiasa ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjaga Sunnah suaminya tercinta pada masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab..

Pada masa khilafah Utsman bin Affan ia melihat kegoncangan situasi serta perpecahan kaum muslimin dikalangan khalifah. Bahaya fitnah semakin memuncak di langit kaum muslimin. Maka beliu pergi menemui Utsman dan menasihatinya supaya tetap berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta petunjuk Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab, tidak menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.

Apa yang dikhawatirkan Ummu Salamah terjadi juga, yaitu peristiwa terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah membaca Al-Qur’an dan angin fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaum muslimin. Pada saat itu Aisyah telah membulatkan tekad untuk keluar menuju Bashrah disertai Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin al-’Awwam dengan tujuan berbincang dengan Ali bin Abi Thalib. Maka Ummu Salamah mengirim surat yang memiliki sastra indah kepada Aisyah.

“Dari Ummu Salamah, isteri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.
Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.(ALLAH)
Amma ba’du.
Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.
Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak akan kukuh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring(condong), dan tidak boleh diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”

Ummu Salamah berada di pihak Ali bin Abi Thalib kerana beliau mengikuti kesepakatan kaum muslimin atas terpilihnya beliau sebagai khalifah mereka. Kerana itu, Ummu Salamah mengirim / mengutus anaknya, Umar, untuk ikut berperang dalan barisan Ali .

Bagaimana Ummu Salamah tidak mencapai darjat setinggi itu, setiap saat beliau mendengar langsung bacaan al-quran daripada Rasulullah dan mendengar kata-kata Nabi s.a.w dari lisan baginda. Ummu Salamah juga menjadi rujukan para sahabat dalam beberapa persoalan hukum dan fatwa, terutama persoalan yang berkaitan dengan wanita. Ummu Salamah juga meriwayat 378 hadis yang dihafalnya dengan baik.
Ummu Salamah wafat dalam bulan Syawal tahun ke 60 Hijrah(separuh pendapat mengatakan pada bulan Zulkaedah 59 hijrah) di Madinah,  ketika usianya sekitar 90 tahun(setengah pendapat mengatakan 84tahun).Beliau dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.
Isteri ke-6 baginda Rasulullah s.a.w. ini sempat berada dalam dalam pemerintahan Khulafah ar-Rasyidin hingga pemerintahan Yazid bin Mu’awiyyah. Beliau diberi umur panjang dan mengetahui pembunuhan Sayyidina Husain, sehingga membuatnya pengsan kerana sangat sedih.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Ummu Salamah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.
Imam Adz-Dzahabi menyebut sifat Ummu Salamah;“ Dia dianggap salah seorang ulama generasi sahabat.”